Sunday, October 29, 2017

Di suatu Jeda dari Tepian Taman Inokashira





Gelap rapi memangkas rindang dalam sekejap

sudut demi sudut

hingga musim gugur

sempurna mengambil wujud


Telinga yang tersumbat rasa sungkan

tak kunjung berkenalan dengan petikan gitar musisi

yang selepas dari petang melantun tembang

tanpa menerima sepeser pun basa basi


Separuh bulan

tenggelam ke dasar kolam

kata demi kata

mulai gugur ke tepian

bersama kontemplasi setengah utuh

dari sepenggal puisi yang urung tersentuh


Di bawah redup lampu taman

secangkir kopi yang diracik tanpa percakapan

tak mampu menghangatkan musim

dan dingin kota yang semakin asing.



(27 Oktober/17.30/ Dari pinggiran hiruk pikuk Tokyo)

Saturday, September 9, 2017

Di Pelataran Terminal 3 Narita




Karena  sering terbang murah

aku jadi terbiasa menimbang

dan memilah


seperti penerbangan

yang sudah sudah

setelah memilah keresahan

di pelataran gerbang keberangkatan


demi menghindari batas muatan

rindu lekas aku tanggalkan

tepat sebelum koper naik

ke atas timbangan


"Jangan ditinggal lagi, kali ini kita tempel saja

dengan label barang pecah belah"

tawar petugas kargo terminal

yang mulai nakal


Aku bimbang

Aku resah

sialan! aku ditinggal terbang.

Wednesday, August 23, 2017

Dari Pojok Timur Stasiun Beppu





Ada pergantian musim,

sedari melintasi empat persimpangan

yang dimana laju waktu

tertahan

oleh lampu merah di musim gugur.

 

Kita menunggu di pojok timur,

sehabis membuang muka dari rutinitas

jauh di luar pintu sebelah barat stasiun

 

Kau bertanya,
 
"kenapa kita tidak naik kereta saja?"

Aku mulai ragu

sepertinya kau terburu buru,

lebih dari turis yang sejak tadi

lalu lalang

sibuk mencari ke arah mana jalan pulang

 

jujur saja aku tidak ingin buru buru.

Dan stasiun ini memang bukan

untuk penumpang yang tergesa gesa.

 

Aku minta kau bercerita lebih banyak lagi

tentang apa saja

bukan lagi tentangmu pun tak apa juga

asal bukan tentang jadwal keberangkatan kereta.

Namun kau sudah terlanjur diburu waktu,

stasiun ini bukan lagi ruang tunggumu.

 

Kau pun berlalu menuju entah

bersama sesak penumpang yang bergantian hilang

meninggalkan bangku tunggu kosong.

Seperti teduh siang bolong

yang hanya menyisakan terik, ketika hengkang sepanjang obon.

 

dan aku menunggu di pojok timur,

sendirian menenggak musim panas

yang kini tersisa kurang dari setengah gelas.
 
 

Tuesday, August 1, 2017

Epilog: Matogahama dan Bulan Juli



Di petang itu

laut pasang tak sabaran mengecup bibir pantai

Terlantar oleh angin asin yang berhembus tipis tipis,

seketika kepakan sayap camar memelan di atas langit.

di bawahnya berkumpul kerumunan janji akan pertemuan

ada yang bertemu diam diam

diam diam ada yang kebetulan dipertemukan.

Meski kebetulan, belum tentu menjanjikan.


Di lantunan musim panas itu

mengucur alunan dari pori pori sepasang telapak tangan
 
pada tiap tepukan

pada tiap hentakan

berusaha bertemu

pada satu tempo yang sama di penghujung tiap bait nya

"Yosa Kora sai! sai!"

"Yosa Kora sai! sai!"

"Aryasa! Aryasa!"

beberapa pasang telinga,

berusaha menerka makna.


Langit panggungnya

ketika setiap pandangan

terlempar jauh ke atas laut malam

di bawah nya

sepasang bola mata

masih mencoba memahami rangkaian kebetulan.

sembari mencuri curi kesempatan,

mengabadikan kesementaraan.