Tuesday, June 13, 2017

Dialog: 18:45



Riak riak air asin menguning jingga
saat senja yang belum paham caranya berpamitan luntur ke permukaan laut
Hanyut hingga ke pesisir
mencoba sembunyikan hangatnya dari malam
di sela sela butiran pasir
 
Kapal dan pelabuhan masih tertambat erat pada satu perpisahan
"Panggilan terakhir kepada penumpang di dalam pelabuhan, harap segera bergegas naik ke kapal. Kapal menuju Osaka akan segera berlabuh meninggalkan dermaga."
Penumpang di dalam pelabuhan tidak menghiraukan pengumuman.
Masih sibuk memilih oleh oleh untuk di bawa pulang,
dan kata kata perpisahan yang tepat untuk diucapkan.
 
"Sekali lagi panggilan terakhir. Panggilan terakhir. Kepada penumpang tujuan osaka. Harap bergegas naik ke kapal. Kapal akan segera berlabuh meninggalkan dermaga, tidak peduli senja masih tersisa di pinggiran karang. Kita semua ingin segera pulang, bukan?" 
Bergegaslah sisa sisa penumpang dari dalam pelabuhan berpindah ke dalam badan kapal.
Bendera di atas kapal pun berkibar,
pelan pelan mengantarkan kapal berlabuh kembali ke peraduan.
Tangan tangan di pinggiran dermaga,
perlahan harus kembali rela melambai kepada perpisahan.
Sedang mercusuar mulai gelisah menunggu ombak yang tak kunjung pulang,
ketika sore dan malam
terbelah sejajar pada satu garis lintang

Tuesday, June 6, 2017

3 Pagi dalam Kopi




Lewat setengah 3 pagi

malam mendapati pagi

bercumbu mesra bersama kantuk

di secangkir kopi

yang luput terteguk

Thursday, May 11, 2017

24 Jam


Malam mulai terkumpul ke dasar cangkir
Lelah yang jatuh di mata, perlahan turun ke perut
Angka 24 sakral berbinar di setiap sudut
 
"Satu mangkuk tengah malam porsi besarnya. Minumnya pukul satu dini hari saja, saya belum mau mabuk. Masih mau coba keliling cari penumpang", pesanan dari seorang supir taksi lanjut usia yang duduk di bangku deret dekat kasir.
 
Di meja untuk empat orang, duduk hanya seorang Karyawan kantoran yang pulang lembur hampir setiap malam. Menegak segelas besar pukul dua dini hari, tanpa melahap habis satu set pukul sebelas malam yang sudah terhidang duluan.
 
"Satu set pukul dua lewat Lima belas dini hari. Secangkir hangat pukul enam pagi. Barang antaran hari ini masih belum sampai setengah jalan ke tempat tujuan", gelisah seorang supir truk di tepi meja panjang.
 
Menuju pintu keluar, seorang gadis yang dibaluti piyama tidur menenteng pulang satu porsi waktu tidurnya yang terbungkus rapi dan hangat dalam kantong plastik berlabel "9 jam".
 
"mau pesan apa?"
"Pesan yang biasanya" tanpa melihat hidangan dalam daftar menu, seorang yang belum ingin bergegas bertemu pagi, memesan malam satu porsi penuh di atas nampan.

-ditulis dini hari saat perkara perut lebih penting dari mata yang akut mengantuk-

Sunday, March 26, 2017

Asakusa





Aroma udara pedas
tercampur berkat dari sisa sisa dupa
mengepul tipis tipis 
belum sempat disyukuri  lekas sudah terbakar habis 

Pagi sembunyi
terlipat rapi
di antara kelopak mata
para biksu tanpa strata
dari dalam lonceng tua
Buddha mulai bercerita

Aroma udara memanis
Kedai kedai kudapan 
Mulai menjajakan doa dan nafsu  
Pagi angkat kaki
Umat yang taat semakin menepi

di setiap kedai kudapan 
Nafsu duniawi lebih laku dari pada doa 
dari mulut yang luput panjatkan sutra 
Buddha diam tanpa tahta
 
-Teruntuk pagi bisu di Asakusa. Tanpa doa umat mu dan nafsu duniawi para tamu jauh yang lupa diri, saya rindu sekali-